Live Story

Menyandang gelar sarjana adalah suatu masa yang sangat dinanti bagi para mahasiswa yang telah menempuh jenjang studinya. Gelar sarjana yang dikukuhkan saat wisuda adlah kegembiraan tersendiri bagi para wisudawan dan wisudawati.
Raut wajah yang berseri-seri tergoreskan dan menghiasi wajah para wisudawan dan wisudawati, perasaan bahagia menyelimuti perasaan mereka. Perasaan bahagia karena akhirnya mereka dapat menyelesaikan studi mereka, baik itu dengan nilai yang sangat memuaskan ataupun tidak. Namun moment wisuda & menyandang gelah sarjana adalah moment yang sangat indah dan akan terbesit dalam benak setiap wisudawan & wisudawati.

Namun, bukan berarti dengan telah menyandang gelar sarjana beban tanggung jawab terlepas begitu saja dari pundak para wisudawan & wisudawati. Karena setelah itu, para wisudawan & wisudawati akan mengemban tanggung jawab yang lebih besar dari status dahulunya sebagai MAHASISWA.

Para sarjana yang dilahirkan dari berbagai perguruan tinggi baik itu negeri maupun swasta telah dinanti oleh masyarakat untuk mengejawantahkan ilmu yang telah didapatnya selama di bangku perkuliahan. Hal tersebut bukanlah perkara mudah, karena para sarjana akan menghadapi berbagai kenyataan hidup ataupun fenomena baru yang sangat bertentangan dengan teori dan fakta. Dimana dengan keadaan yang demikian, para sarjana dituntut untuk selektif dalam bertindak, akankah keidealisan yang dimiliki selama berstatus MAHASISWA akan tetap melekat dengan dirinya atau akankah ia akan menanggalkan keidealisannya?

Selain itu, masa-masa menyandang sarjana bisa dikatakan sebagai masa-masa yang membahagiakan karena telah berhasil menyelesaikan studinya atau bahkan bisa jadi sebagai masa yang penuh kegalauan. Galau karena para sarjana harus berjalan dari satu gedung ke gedung lainnya untuk melamar pekerjaan sesuai dengan bidangnya yang itu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dimana para sarjana akan bersaing dengan berbagai fresh graduate lainnya dalam mencari pekerjaan.

Tapi, apapun itu persoalan yang menghadang setelah masa menyandang gelar sarjana jadikanlah sebagai penggemblengan mental untuk bisa menjadi pribadi yang lebih berkualitas lagi. Aktualisasikan segala ilmu yang didapat dengan cara yang bijak, santun, jangan sampai dengan status baru sebagai sarjana akan menghinakan dirimu.
WELCOME to the reality Live and Job_ Keep Spirit until the End, "_"  


_________________________________________________________________________________

" اُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ"
Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur
Hadist di atas dapat dikatakan sebagai nasehat bagi setiap muslim maupun muslimah untuk selalu menuntut ilmu. Dari hadist di atas pula menyiratkan makna bahwa tidak ada batasan usia dalam menuntut ilmu.
Setiap muslim maupun muslimah memang seyogianya terus selalu menuntut ilmu baik itu melalui lembaga formal maupun non formal. Menuntut ilmu dapat pula diperoleh melalui membaca wacana ataupun situasi yang ada di sekitar kita, karena secara tidak disadari fenomena yang sering terjadi di sekitar kita terdapat pelajaran berharga yang tak didapat di manapun, tinggal bagaimana individu tersebut mencermati dan memaknainya.
Dari hadist tersebut pula seyogianya setiap muslim maupun muslimah selalu mempunyai ghiroh untuk selalu belajar, , belajar, , dan belajar. Meskipun telah usai studinya baik dalam tingkatan SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Karena terkadang ilmu yang didapat selama bangku persekolahan masih standar, akan tetapi teruslah untuk selalu mengembangkan, memperkaya ilmu yang dimiliki sehingga nantinya setiap pribadi manusia dapat selalu eksis dalam setiap linu kehidupannya serta melanjutkan kehidupan kelak baik di dunia maupun di akhirat dengan ilmu. Karena ingat, , , dalam Firman Allah SWT dalam surat Al Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Namun, dalam menuntut ilmu pula niatkan sebagai ibadah. Jangan sampai salah niat dalam menuntut ilmu karena tidak akan barakah dalam memperolehnya. Selain itu, pula jangan sampai ingin menuntut ilmu sampai pada level tinggi namun hanya karena ingin mengejar jabatan, agar dipandang orang atau apapun itu namanya. Karena yang demikian tidak akan abadi. Bila hanya demikian tujuannya maka tak ada gunanya, bahkan hal tersebut dapat pula menghinakanmu bukan memuliakanmu.

Mari, , , terus belajar, , belajar , , dan belajar. Meski segala asa, title telah disandang, jangan berhenti sampai di situ. Karena dunia ini luas, , ilmuNya Allah itu luas, , jadi teruslah belajar sampai ajal menjemput.
Serta jangan sampai engkau gila hormat, memandang remeh orang lain, mendongakkan wajahmu ketika engkau dipandang terhormat karena ilmu-mu. Namun, jadilah orang yang semakin berilmu semakin merunduk seperti padi.   

Fastabiqul Khoirot ^_^ 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar